International Conference on Chinese Indonesian Cultural Heritage 2021

11 Agu 2021

International Conference on Chinese Indonesian Cultural Heritage 2021 yang disponsori bersama oleh Prodi Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra dan Pusat Studi Indonesia Tionghoa UK Petra diadakan pada 12 Juni 2021. Para pakar dan cendekiawan dari seluruh Indonesia dan luar negeri, termasuk Selandia Baru, Malaysia, Tiongkok Daratan dan Taiwan, bahkan dari Amerika Serikat, antusias menghadiri pertemuan tersebut. Seminar bertema "Rejuvenating Chinese Indonesian Cultural Heritage", dan didukung oleh Magister Sastra serta Prodi Arsitektur UK Petra.

Acara pembukaan seminar dipandu oleh Andhiyustina, mahasiswa magister Sastra, dan Bryan Gilbert Enggra Gunawan, mahasiswa Prodi Bahasa Mandarin. Usai berdoa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembawa acara mengundang Bapak Dwi Setiawan, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra, untuk memberikan sambutan pembukaan. Pertama-tama, dekan menyambut hangat semua peserta dan memuji para dosen dari Prodi Bahasa Mandarin. Tidak mudah untuk tetap berusaha mempersiapkan seminar di tengah pandemi. Selain untuk memeriahkan HUT ke-60 UK Petra, seminar ini juga menjadi salah satu kegiatan Dies Natalis ke-20 Prodi Bahasa Mandarin. Kemudian, Prof. Djwantoro Hardjito, Rektor Universitas Kristen Petra, menyampaikan pidato dan membuka seminar secara resmi. Prof. Djwantoro menceritakan bagaimana dia mencoba yang terbaik untuk mendapatkan kembali nama Tionghoanya, tetapi dia menyesal bahwa anak-anaknya tidak memiliki nama Tionghoa. Dari sini, rektor menyadari betapa pentingnya menghidupkan kembali warisan budaya Tionghoa Indonesia.

Seminar ini mengundang lima pembicara utama, yang semuanya terkenal di bidang penelitian Indonesia-Tionghoa: Prof. Leo Suryadinata dari Institut Studi Asia Tenggara di Singapura, Prof. Guo Xi dari Pusat Studi Tionghoa Luar Negeri Jinan University, Tiongkok, Prof. Danny Wong Tze Ken dari Universitas Malaya, Dr. Tod Jones dari School of Design and Built Environment, Curtin University of Western Australia, dan Prof. Esther Kuntjara, Ketua Pusat Studi Indonesia Tionghoa Universitas Kristen Petra. Selain itu, hadir pula tamu istimewa Mr. Huihan Lie, CEO My China Roots, yang membagikan tentang penelusuran silsilah keluarga.

Setelah makan siang, berlangsung sesi paralel. Panitia telah menyiapkan tujuh ruang diskusi, lima dengan tema budaya, dan dua lainnya dengan tema arsitektur. Peserta dapat memasuki ruang diskusi sesuai minatnya. Peserta mendengarkan makalah yang dipresentasikan oleh para akademisi di ruang diskusi dan melakukan diskusi interaktif di bawah moderator dengan suasana yang harmonis dan hangat.

Ibu Elisa Christiana, Ketua Prodi Bahasa Mandarin dan Ketua Panitia seminar kali ini, menyampaikan pidato penutup setelah sesi paralel usai. Meskipun para peserta mulai mengikuti konferensi pada pukul sembilan pagi, mereka tetap bertahan sampai sore. Ibu Elisa sangat tersentuh dan mengagumi semangat para peserta. Setelah mendengarkan pidato pembicara kunci dan hasil sesi paralel, Ibu Elisa mengatakan bahwa warisan budaya adalah harta yang ditinggalkan oleh para leluhur. Melalui warisan budaya, generasi penerus dapat belajar tentang sejarah, memahami sejarah, dan mengenali jati dirinya. Selain itu, budaya Indonesia-Tionghoa telah menjadi bagian dari multikulturalisme Indonesia, membuat Indonesia semakin indah. Prof. Danny Wong Tze Ken mengatakan bahwa masih banyak proyek studi Indonesia-Tionghoa yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Ibu Elisa juga berharap seminar ini dapat menginspirasi semua orang untuk lebih giat mempelajari budaya Tionghoa Indonesia.

Seminar berakhir dengan sukses dan kita menantikan kesempatan untuk bertemu lagi di lain waktu untuk melanjutkan pertukaran dan kerja sama untuk implementasi dan peningkatan proyek penelitian Indonesia-Tionghoa.


Close previewer